Antusiasme terhadap game baru seringkali membuat penggemar berebut untuk mendapatkan aksesori yang relevan, dan fenomena ini terlihat jelas dengan peluncuran controller DualSense edisi terbatas bertema Grand Theft Auto VI (GTA 6). Sejak dibuka untuk pre-order pada 10 September 2026, sejumlah calon pembeli terpaksa menghadapi antrean panjang dan berbagai kendala teknis saat mencoba mengakses layanan PlayStation.
Tentu saja, moment ini menarik perhatian banyak gamer yang menantikan peluncuran game dengan garapan megah tersebut. Namun, proses pre-order yang rumit menjadikan pengalaman ini sedikit kurang menyenangkan bagi banyak orang yang berharap dapat segera mendapatkan controller bergaya klasik ini.
Antusiasme dan permintaan yang sangat tinggi juga menjadi tantangan bagi Sony. Di saat banyak yang berlomba untuk melakukan pemesanan, sejumlah masalah teknis muncul secara bersamaan, membuktikan kerasnya persaingan di kalangan penggemar game.
Sony Luncurkan Controller DualSense Terinspirasi GTA VI
Sony mengeluarkan dua varian controller DualSense, yaitu Black Limited Edition dan White Limited Edition, masing-masingnya dijual dengan harga USD 84,99 atau sekitar Rp 1,49 juta. Keduanya hanya tersedia dalam jumlah terbatas, membuat permintaan semakin meningkat seiring dengan ketidakpastian ketersediaan produk.
Desain controller ini terinspirasi dari Vice City, sebuah kota fiksi yang ikonik dalam seri GTA. Permukaannya menampilkan efek warna yang berubah saat terkena cahaya, memberikan nuansa yang segar dan sesuai dengan tema permainan.
Desain ini tidak hanya menarik perhatian gamer, tetapi juga menjadi koleksi yang dicari oleh penggemar fanatik dari serial Grand Theft Auto. Sejalan dengan itu, ukiran pohon palem di bagian pegangan menambah ketertarikan yang sejalan dengan estetika Vice City.
Kendala Teknisi dan Antrean Panjang Guncang Pre-order
Ketika pre-order dibuka, aksesibilitas terhadap layanan menjadi masalah serius. Banyak calon pembeli yang harus menunggu lebih dari satu jam untuk mendapatkan kesempatan melakukan pemesanan di PlayStation Direct. Beberapa pengguna melaporkan mengalami kesulitan yang beragam, termasuk masalah autentikasi akun dan sistem checkout yang tidak berjalan lancar.
Kondisi ini menciptakan penggalan frustrasi bagi banyak orang yang telah berusaha keras untuk memiliki controller ini. Keterbatasan waktu dan stok semakin memperburuk situasi, membuat banyak orang merasa khawatir tidak akan mendapatkan kesempatan kedua.
Pembelian yang berhasil pun sering ditemui dengan halaman error yang mengganggu proses checkout. Semua kendala ini menunjukkan begitu tingginya minat terhadap aksesori baru ini meskipun produk resmi belum sepenuhnya tersedia di pasaran.
Persaingan Ketat Menggoda Scalper untuk Meraup Keuntungan
Dalam dunia game, munculnya scalper, yaitu individu yang membeli produk terbatas untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi, menjadi masalah tersendiri. Setelah pembelian dimulai, controller ini segera muncul di berbagai platform reseller dengan harga yang jauh di atas harga resminya.
Tindakan ini menimbulkan kekecewaan dan kemarahan di kalangan calon pembeli yang memang berniat membeli untuk diri sendiri, bukan untuk dijual kembali. Scalper sering kali memanfaatkan keterbatasan dan kesulitan akses, menciptakan keuntungan finansial bagi mereka.
Inisiatif untuk mengatasi masalah ini diharapkan dapat dilakukan oleh Sony di masa yang akan datang, agar gamer sungguhan bisa dapat menikmati produk yang memang mereka inginkan. Dalam situasi seperti ini, komunikasi yang jelas dari perusahaan bisa menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan dan kepuasan pelanggan.

